Rabu, 20 Maret 2013

Makalah I'jazul Qur'an

   
  1. I’jazul Qur’an
    MAKALAH
    Disusun Guna Memenuhi Tugas
    Mata Kuliah : Ulumul Qur’an
    Dosen Pengampu : Nadhifah, S.Th.I, M.S.I





    Disusun Oleh : 
    Mufidin 123211053
    Muhammad Aniq  12321105         
    Muhammad Daris Fithon 123211055




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
  1.  PENDAHULUAN
Tiada satu bacaan pun seperti Al- Qur’an yang dpelajari, dibaca, dan dipelihara aneka macam riwayat cara membacanya. Dan Tiada sedikit pun selain Al- Qur’an yang diatur tata cara membacanya, mana yang harus dipanjangkan, dipendekkan, dipertebal, atau diperhalus ucapannya. Dimana tempat boleh atau harus bermula dan berhenti, bahkan diatur lagu dan irama yang diperkanankan atau tidak, sampai pada etika membacanya.
Keistimewaan Al- Qur’an inilah yang menjadi daya tarik sendiri, sirr min Asroril Quran sangat banyak sekali. Dari juz, surat, ayat, kalimah bahkan apa yang ada dalam huruf per huruf di Al- Qur’an itu merupakan anugerah dari Allah Swt.
Kemukjizatan Al- Qur’an adalah suatu yang diberikan Allah untuk sang Kekasih-Nya , beliau Nabi Muhammad Saw. Kemukjizatan yang tidak diberikan Allah kepada siapapun baik sebelum maupun sesudah Nabi Muhammad Saw. Inilah yang merupakan keistimewaan tersendiri dari Al- Qur’an sekaligus sebagai Mukjizat Rahmatan lil ‘alamien.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian dan Tujuan I’jazul Qur-an
    2. Macam-macam mukjizat Al- Qur’an
    3. Segi-segi kemukjizatan Al- Qur’an

  1. PEMBAHASAN
    1. Pengertian dan Tujuan I’jazul Qur-an
I’jaz menurut bahasa membuktikan kelemahan. Sedangkan menurut istilah i’jaz ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila i’jaz sudah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz. Dikehendaki dengan i’jaz dalam pembahasan ini, ialah ;
اظهارصدق النبي ص م في دعوة الرسالة باظهارعجز العرب عن معارضته في معجزته الخالدة وهي القران وعجزالجبال بعدهم
“Memperlihatkan kebeneran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang Rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang arab dalam menantangnya terhadap mukjizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang datang sesudah mereka”
Dan mukjizat ialah :
امرخارق للعادة مقرون بالتحدي سالم عن المعارضات
”Suatu urusan menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddah dan terlepas dari tantangan”1
Kata mukjizat sendiri terambil dari kata bahasa Arab, اعجز yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu” . Pelakunya yang melemahkan dinamai Mu’jiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, maka dinamai معجزة (mukjizat). Tambahan (ة) ta’ marbuthoh pada akhir kata itu, yang mengandung makna mubalaghah(superlatif). Mukjizat di definisikan oleh pakar agama islam, antara lain, sebagai “ suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang di utus Allah, sebagai bukti ke-Nabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu” 2
Mukjizat sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu di ibaratkan sebagai ucapan Tuhan : “Apa yang dinyatakan sang Nabi adalah benar. Dia adalah utusan-KU, dan buktinya Aku melakukan mukjizat itu”.
Sebenarnya mukjizat walaupun dari segi bahasa diartikan melemahkan atau membuktikan kelemahan yang ditantang sebagaimana dikemukakan diatas, namun dalam segi agama, untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing Nabi. Jikalau demikian, maka ini paling tidak mengandung dua konsekuensi :
Pertama, bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka ia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Mukjizat hanya berfungsi memperkuat keimanan, serta menambah keyakinannya kepada Allah SWT.
Kedua, para Nabi dari sejak Nabi Adam a.s hingga Nabi Isa a.s diutus untuk suatu kurun tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Namun apakah ini berarti peristiwa luar biasa yang terjadi melalui mereka itu tidak dapat dilakukan oleh selain umat mereka pada generasi sesudah generasi mereka? Jika tujuan mukjizat hanya untuk menyakinkan umat setiap Nabi, maka boleh jadi umat yang lain dapat malakukannya. 3
I’jazul Qur-an mempunyai tujuan yaitu :
  • Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad Saw
  • Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al Qur-an benar-benar merupakan wahyu Allah
  • Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia
  • Untuk menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia. 4

  1. Macam – macam mukjizat Al- Qur’an
Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu pertama mukjizat yang bersifat material indrawi lagi tidak kekal, dan kedua mukjizat imaterial, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu kesemuanya merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat Nabi tersebut menyampaikan risalahnya.5
Perahu Nabi Nuh a.s yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang dahsyat; tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s dalam kobaran api yang sangat besar; tongkat Nabi Musa a.s yang beralih wujud menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s atas izin Allah; dan lain-lain. Kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada. Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad Saw, yang sifatnya bukan indrawi atau material, namun dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat Al- Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.6
Al- Qur’an mengemukakan, alasan mengapa bukti mukjizat Nabi Muhammad Saw adalah Al- Qur’an? Karna sesungguhnya umat terdahulu jikalau di tunjukkan mukjizat para Nabi Allah SWT, mereka berdusta. Sebagaimana firman Allah :

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi kami untuk mengirimkan tanda-tanda (mukjizat) yang bersifat indrawi (melalui Engkau Nabi Muhammad) melainkan karena tanda-tanda (semacam )itu telah (kami kirimkan sebelum ini, namun) didustakan oleh umat terdahulu” (QS Al-Isra : 59)

Penolakan terhadap Al- Qur’an sebagai wahyu Allah, sudah terjadi pada waktu turunnya. Mereka menganggap bahwa Al- Qur’an merupakan buah karya Nabi Muhammad Saw, padahal beliau sendiri seorang yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap Al- Qur’an sebagai wahyu Allah, Al- Qur’an menantang dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
  1. Mendatangkan semisal Al- Qur’an
Disini Allah memerintahkan Manusia dan Jin berkumpul untuk membuat semacam Al- Qur’an. Sebagaimana Firman Allah :

“katakanlah : sesungguhnya jika berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang seperti Al- Qur’an ini, pastilah mereka tidak dapat mendatangkan yang sepertinya, walaupun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain” (QS. Al- Isra’ : 88)
  1. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al- Qur’an.
“Bahkan mereka mengatakan : Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu. Katakanlah, (kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat untuk menyamainya, dan panggilah orang-orang yang kamu anggap sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Hud : 13)
Meskipun lebih ringan dibanding tantangan yang pertama, namun tak seorang pun yang berhasil menjawab tantangan tersebut
  1. Mendatangkan satu surat

“Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah, “(kalau benar yang kamu lakukan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuat-membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar ”. (QS. Yunus : 38)


Dan Allah mengulangi firman-Nya kembali pada surat Al-baqarah.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS. Al-Baqarah : 23)7

  1. Segi – segi kemukjizatan Al- Qur’an
  1. Gaya Bahasa
Yaitu adanya susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan yang diketahuinya dalam bahasa Arab. Al- Qur’anul Karim tidak bisa disamakan oleh apapun dalam susunannya. Hal itu telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan gembong-gembong ahli pidato yang fasih dan gamblang seperti Walid bin Mughiroh, Utbah bin Rabi’ah dan sastrawan lainnya.8
Al- Qur’an telah melemahkan orang Arab, sehingga tidak bisa mengeluarkan kalam seperti Al- Qur’an. Dalam segi susunan kalimah, huruf, lafadh, bahasa.9
  1. Susunan kalimat / Uslub
Al- Qur’an muncul dengan uslub yang baik dan indah, bisa mengagumkan orang-orang Arab karena keindahannya, keasikan dan kemanisan susunannya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia yang akan menyamai isi kandungan Al- Qur’an. Uslub Al- Qur’an yang menakjubkan itu, mempunyai beberapa keistimewaan :
  1. Kelembutan Al- Qur’an secara lafdziah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.
  2. Keserasian Al- Qur’an baik untuk awam maupun kaum cendikiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan Al- Qur’an
  3. Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana Al- Qur’an memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
  4. Keindahan sajian Al- Qur’an serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.
  5. Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafadh dan susunannya yang bermacam-macam, yang semuanya indah dan halus.
  6. Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang dikemukakan).
  1. Iijaz
Segi kemukjizatan Al- Qur’an yang ketiga adalah adanya sifat Iijaz(simple) yang indah, dan kemegahan ucapan yang luar biasa diluar kemampuan manusia untuk menguasai atau mendatangkan persamaannya, karena hal itu berada diatas kemampuan manusia.
  1. Undang-undang Ilahi yang Sempurna
Al- Qur’an menjelaskan pokok-pokok aqidah, hukum-kukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, politik, sosial, dan kemasyarakatan, dan Al- Qur’an-lah yang meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang mulia lagi adil yang didengungkan oleh para tokoh reformer.
  1. Berita-berita tentang hal yang ghaib
Jikalau Al- Qur’an itu buah karya Nabi Muhammad, pasti akan jelas tanda-tanda bikinan beliau dalam berita-berita ghaib itu, sebab buktinya berbeda dengan yang ia beritakan, dan nampak jelas pula kedustaannya, padahal Nabi Saw jauh dari sifat dusta.
Contoh surat Ar-Rum, yang menceritakan perang yang akan terjadi antara Roma dan Parsi, serta kemenangan pada peperangan tersebut ada dipihak Roma setelah mereka kucar-kacir dalam peperangan terdahulu. Firman Allah Swt :

“2 Telah dikalahkan bangsa Rumawi, 3. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, 4. Dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,5. Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Q.S Ar-Ruum : 2-5)
  1. Sejalan dengan ilmu pengetahuan modern
Adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu oleh Al- Qur’an sebelum ditemukan oleh para ilmuwan. Teori Al- Qur’an itu sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Sebagai contoh penyidikan dengan sidik jari. Pada abad yang lampau tahun 1884M di Inggris, secara resmi telah dipergunakan metode untuk mengenali seseorang dengan perantaraan sidik jari. Hal itu terbukti karna kulit jari-jari manusia berlapis dengan garis-garis halus yang beraneka macam yaitu berbentuk busur, tali, dan panggalan. Kadang-kadang semua anggota tubuh manusia memilki kesamaan, namun jari-jari memilki keistimewaan sendiri. Sebagaimana firman Allah Swt :

“3.Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?4.Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.(QS. Al-Qiyamah : 3-4)
  1. Memenuhi kebutuhan manusia
Al- Qur’an menyampaikan petunjuk dan bimbingan seperti :
  1. Perbaikan individu
  2. Perbaikan masyarakat
  3. Perbaikan aqidah
  4. Perbaikan ibadah
  5. Perbaikan akhlak
  6. Perbaikan hukum dan politik
  7. Perbaikan urusan keuangan
  8. Perbaikan urusan perang
  9. Perbaikan kebudayaan ilmiah10

  1. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa Al- Qur’an merupakan anugerah yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Mukjizat itu tidak berupa indrawi yang sementara, melainkan bentuk kalam Allah SWT.
I’jazul Quran ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila i’jaz sudah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz (pelaku).
Keistimewaan Al- Qur’an berlaku untuk kapanpun, baik segi kandungan ayat, khasiat surat maupun ayat, semua ada dalam kalam Ilahi tersebut. Inilah kemukjizatan dan keistimewaan Al- Qur’an. Al- Qur’an jauh-jauh hari telah membicarakan ilmu pengetahuan modern, cerita-cerita para Nabi terdahulu, hukum-hukum(baik alam, pidana), politik, sosial, ekonomi, peradaban, dan lain-lain.
  1. PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat kita ketahui bersama, bahwa mukjizat mempunyai peran untuk melemahkan umat manusia yang menentang.
Demikianlah pembahasan makalah sekelumit tentang I’jazul Quran, kami sebagai pemakalah, menyadari bahwa makalah yang kami sampaikan sangat jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanya milik Allah, dan kesalahan milik kami. Maka dari itu, perkenankanlah kami, meminta kritik dan saran dari pembaca guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah sendiri dan pada umumnya untuk pembaca. Amien
Dan akhir kata, pemakalah mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata, baik berupa sistematika penyusunan, maupun isi serta penyampaian makalah ini.












DAFTAR PUSTAKA

Hasbi Ash Shieddqy, Prof. DR. Teungku Muhammad. Ilmu-ilmu Al-Qur-an. 2002. Semarang : Pustaka Rizki Putra.
Shihab, M. Quraish. Mukjizat Al- Qur’an. 1997. Bandung : Mizan.
Syadali Drs. H. Ahmad, Drs. H. Ahmad Rofi’i. Ulumul Quran II. 1997. Bandung : Pustaka Setia.
Al-Qutthon Minaul Kholil. Mabahits fi ulumil Quran.
Umar Drs. H. Moh. Chudlori, Drs. Moh. Matsna H.s.Pengantar Studi Al-Qur’an. 1987. Bandung : Al-M’arif.

1 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shieddqy, Ilmu-ilmu Al-Qur-an, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2002), h : 317
2 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung :Mizan,1997), h :
3 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :33
4 Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i, Ulumul Quran II, (Bandung : Pustaka Setia,1997), h :11
5 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :35
6 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :36
7 Minaul Kholil Al-Qutthon, Mabahits fi ulumil Quran, h : 259
8 Moh. Chudlori Umar, Moh. Matsna H.s, Pengantar Studi Al-Qur’an (Bandung : Al-M’arif,1987), h : 119
9 Minaul Kholil Al-Qutthon, Mabahits fi ulumil Quran, h : 266
10 Moh. Chudlori Umar, Moh. Matsna H.s, Pengantar Studi Al-Qur’an (Bandung : Al-M’arif,1987), h : 119-182

Senin, 18 Maret 2013

Sejarah Sunan Pandanaran

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN

by AZMAT KHAN AL-HUSAINI (Pattani, Royal Kelantan, Walisongo Family & Relatives etc.) on Sunday, July 18, 2010 at 10:28pm
"Tulisan ini mencoba menjelaskan "versi" sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yang berdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan"

Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo

[Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi tahun 1979]




Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran :

I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah

Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah:
1. Pangeran Mangkubumi,
2. Susuhunan Tembayat,
3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang = artinya kota Suci]
4. Wahyu Widayat

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Makam beliau terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat" berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang.


II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang.

Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. Tanah Semarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak. Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan.


Sunan Bayat

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN
by AZMAT KHAN AL-HUSAINI (Pattani, Royal Kelantan, Walisongo Family & Relatives etc.) on Sunday, July 18, 2010 at 10:28pm
"Tulisan ini mencoba menjelaskan "versi" sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yang berdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan"

Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo

[Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi tahun 1979]

Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran :

I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah

Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah:
1. Pangeran Mangkubumi,
2. Susuhunan Tembayat,
3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandanarang = artinya kota Suci]
4. Wahyu Widayat

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Makam beliau terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat" berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang.


II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang.

Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. Tanah Semarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak. Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan.



Jadi Sayyid Abdul Qadir adalah Sunan Pandan arang, jabatannya Bupati Semarang, Gelarnya adalah Maulana Islam, lahir di Pasai, wafat di Semarang.

Gelar-gelar Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq :
1. Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang.
2. Sunan Pandanaran 1
3. Maulana Islam
4. Sunan Semarang

III. Ibu Sunan Bayat atau istri Sunan Pandanaran I bernama Syarifah Pasai adik Pati Unus @ Raden Abdul Qadir (Mantu Raden Patah Demak) putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus @ Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.


IV. Nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran I :

Ada berbagai versi yang beredar ttg Nasab Sunan Pandanaran, sebagian besar babad menyatakan bahwa ia adalah putra dari Pati Unus @ Panembahan Sabrang Lor (sultan kedua Kesultanan Demak) yang menolak tahta karena lebih suka memilih mendalami spiritualitas. Posisi sultan ketiga Demak kemudian diberikan kepada pamannya. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah saudagar asing, mungkin dari Arab, Persia, atau Turki, yang meminta izin sultan Demak untuk berdagang dan menyebarkan Islam di daerah Pragota. Izin diberikan baginya di daerah sebelah barat Demak. Cerita lain bahkan menyebutkan ia adalah putra dari Brawijaya V, raja Majapahit terakhir, meskipun tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya.

Berbagai versi di atas tidak dapat dipertanggung jawabkan dan perlu diluruskan. Versi Pertama muncul karena Ki Ageng Pandan Arang memiliki hubungan dekat dengan Pati Unus. Hubungan Ki Ageng pandan Arang atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran dengan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) menurut Habib Bahruddin adalah hubungan anak angkat dengan ayah angkat.

Pati Unus mengangkat Sunan Pandanaran sebagai anak angkatnya. Karena Syarifah Pasai adalah adik kandung Pati Unus.

Pendapat kedua muncul karena Sunan Pandanaran nampak seperti orang asing karena memang memiki darah Arab, sbgmn akan kita lihat dalam data di bawah; namun kisahnya sbg saudagar tidak tepat, lantas pendapat ketiga merupakan kebiasaan mitos setempat melegitimasikan kekuasaan akan suatu daerah karena dianggap sebagai turunan Penguasa Jawa sebelumnya yakni dari Majapahit, riwayat ini amat lemah karena tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya.

Riwayat dari catatan habib Bahruddin ba'alawi, tahun 1979, telah menggugurkan hikayat atau babad yang menceritakan bahwa Ki Ageng pandanaran adalah anak kandung Pati Unus dan versi-versi lainnya

Nasab Sunan Pandanaran & Sunan Bayat :
1. Nabi Muhammad
2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra
3. Al-Husain
4. Ali Zainal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6. Ja’far Shadiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad
9. Isa
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidillah
12. Alwi
13. Muhammad
14. Alwi
15. Ali Khali’ Qasam
16. Muhammad Shahib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdillah
20. Ahmad Jalaluddin
21. Jamaluddin Al-Husain
22. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar
23. Maulana Ishak
24. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang
25. Sunan Bayat @ Sunan Tembayat @ Sunan Pandanaran II (diambil dari http://panjol-screabers.blogspot.com/2010/12/sunan-bayat.html)

MAKAM SUNAN TEMBAYAT


Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Wali Songo. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas.Sebelum menuju ke Makam , pengunjung melewati Pendopo,yang berada di depan Kelurahan Desa Paseban, di sebelah timur Pendopo, Pengunjung dapat membeli berbagai macam oleh oleh di Pasar Seni.  Setelah mendaki sekitar 250 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), Ki Ageng Pandanaran, atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Tokoh ini terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Songo. Makamnya terletak di perbukitan (”Gunung Jabalkat”) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Semula Ki Ageng Pandanaran adalah orang yang selalu mendewakan harta keduniawian. Berkat bimbingan dan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa disadarkan dari sifatnya yang buruk itu yang akhirnya Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga dan menyamar sebagai penjual rumput. Akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Sunan Kalijaga menyarankan Ki Ageng Pandanaran untuk berpindah ke selatan, tanpa membawa harta, didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi. Namun, diam-diam tanpa sepengetahuannya, sang istri membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan mereka dihadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh yang namanya sekarang disebut Syekh Domba.

Maka terjadilah perkelahian dan untung saja pasangan suami istri ini berhasil mengatasinya akhirnya Allah SWT murka kemudian dia berubah menjadi sebuah mahluk dengan perawakan manusia tetapi berkepala domba. Setelah terjadi demikian, akhirnya dia menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya, kemudian menyatakan diri sebagai pengikut Sunan Pandanaran yang kemudian dibawa oleh Sunan Pandanaran ke gurunya yaitu Sunan Kalijaga yang akhirnya kepala dia berubah kembali menjadi kepala manusia seperti semula. Setelah itu Syekh Domba diberi tugas untuk mengisi tempat wudhu pada padasan atau gentong pada masjid yang berada pada puncak bukit Jabalkat, Bayat.

Akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil sampai dan menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.(diambil dari http://usangjoko.wordpress.com/)


Sumber : http://jembersantri.blogspot.com/2012/08/sejarah-sunan-pandanaran-sunan-bayat.html#ixzz2NwsCxtGu
Follow us: jembersantri.blogspot.com on Facebook

Minggu, 17 Maret 2013

Penghormatan kepada Nabi bukan Kultus

PENGHORMATAN BUKAN BERARTI PENYEMBAHAN ATAU PENGKULTUSAN

Guru : “Anak-anak siapa yang tahu kapan Muhammad dilahirkan?”
Murid : “Aku tahu Bu, kata ayahku tanggal lahirnya 13 Juni 1976!”
Guru : “Salah, yang benar 12 Rabiul Awal tahun Gajah!”
Murid : “Ohh… Nabi Muhammad, kirain tanggal lahir ayah! ,ayahku namanya Muhammad, Abis ibu gak pake gelar Nabi atau sayyidina sih..!”

Umum difahami, memanggil seseorang disandingkan dengan kedudukan, derajat, pangkat bahkan kasta-nya. Seorang yang dituakan, dimuliakan, dihormati, disayangi patut dipanggil dengan panggilan yang sesuai, Panggilan bapak-ibu, ayah-bunda, kakak-adik, tuan-nyonya, kyai-ajengan, syeikh, dsb, ini adalah adat yang umum dan baik.
Raja dan bangsawan biasa dipanggil paduka yang mulia, Raja Saudi biasa dipanggil oleh Assyekh Bin Baz dengan “صاحب السمو asshobussumu” . orang salafi-wahabi menyebut imamnya dengan sebutan Syekk.

……LANTAS MASIH SANTUN KAH MEMANGGIL NABI SAW DENGAN "MUHAMMAD" SAJA ???

Perkara memanggil nabi dengan namanya saja tidak dilarang, karena pada hakikatnya tidaklah terkait dengan dalil atau hujjah namun bagian dari akhlak, bahkan yang aneh justru kalau sholawat pakai sayyidina/maulana jadi bid’ah dan pelakunya tidak mendapat pahala tapi menjadi siksa! Kok bisa…
Salafi-Wahabi membid’ahkan panggilan Sayyidinaa atau Maulana didepan nama Muhammad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, dengan alasan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan dimuka nama beliau SAW Memang golongan ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid’ah itu apa..
Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam ‘An Sayyidil-Anam dengan tegas mengatakan: Menyebut nama Rasulullah SAW dengan tambahan kata Sayyidina (junjungan kita) didepannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau SAW Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah SWT memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulullah SAW, menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulullah SAW
Dalam Al-Qur'an Surat AnNur ayat 63 Allah SAW berfirman :

لاَ تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)". Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63)

Kata "kamu" yang dimaksud dalam ayat diatas adalah sahabat Rasul, orang muslim atau umat Nabi Muhammad SAW, bukan orang munafik atau orang kafir/musyrik Qurais.
Karena saat itu orang kafir/musyrik Qurais memanggil Rosul dengan sebutan yang merendahkan Nabi Muhammad SAW.
Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini Ash-Shawi mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulullah SAW cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas. Jadi, tidak patut bagi kita menyebut nama beliau SAW tanpa menunjukkan penghormatan dan pemuliaan kita kepada beliau SAW, baik dikala beliau masih hidup didunia maupun setelah beliau kembali keharibaan Allah SWT yang sudah jelas ialah bahwa orang yang tidak mengindahkan ayat tersebut berarti tidak mengindahkan larangan Allah dalam Al-Qur’an. Sikap demikian bukanlah sikap orang beriman.

Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dalam menafsirkan ayat tersebut, Qatadah mengatakan : Dengan ayat itu (An-Nur:63) Allah memerintahkan ummat Islam supaya memuliakan dan mengagungkan SAW.
Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil Imam Suyuthi mengatakan: Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau SAW atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.
Dalam kitab Fathul-Bari syarh Shahihil Bukhori juga terdapat penegasan seperti tersebut diatas, dengan tambahan keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu ‘Abbas ra. yang diriwayatkan oleh Ad-Dhahhak, bahwa sebelum ayat tersebut turun kaum Muslimin memanggil Rasulullah SAW hanya dengan Hai Muhammad, Hai Ahmad, Hai Abul-Qasim dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah SWT melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulullah SAW dengan ucapan-ucapan tadi. Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata : Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyallah.

Dalam ayat diatas dapat ditafsirkan bahwa janganlah kamu memanggil Rasul atau Nabi sama seperti kita memanggil teman kita sendiri.
Misalkan kita punya teman namanya "Budi", lalu kita menyapa : Budi apa khabar?, atau Pak Budi, Mas Budi atau Dik Budi apa khabar? Itu kepada teman kita.

LALU BAGAIMANA CARA MEMANGGIL ATAU MENYEBUT NABI/RASUL?
Caranya ya jangan seperti kita menyebut/memanggil teman kita seperti diatas:
1. Bisa menggunakan kata-kata "sayyidina" didepan namanya, misalkan sayyidina Muhammad SAW. Contohnya :Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.
“Aku junjungan (sayyid) bagi semua anak-cucu Adam as, dan aku mengatakannya tanpa kesombongan” …diriwayatkan oleh al-Syaykhâni (al-Bukhârî dan Muslim)

2. Atau menggunakan kata-kata "Rosulullah" didepan namanya, atau dibelakang namanya, misalkan 'Rosulullah Muhammad SAW' atau 'Muhammad Rosulullah'

Contohnya :Allahumma salli 'ala Rosulillah Muhammad SAW wa 'ala alihi wa shohbihi wa dhurriyyaatihi.
Contoh lain : Dalam dua kalimat syahadat (yang sering digunakan untuk adzan dan iqamah) "Asyhadu anlaa ilaaha illaloh, wa asyhadu anna Muhammad-'Rasulullah'.

Lantas bagaimana mengucapkan sholawat nabi di dalam sholat?, sebagaimana hadist nabi : Sholatlah kalian sebagaimana (kalian) melihat aku sholat (HR Bukhori, Muslim, Ahmad).
Bukankah Nabi sendiri didalam sholat ketika membaca sholawat menyebut nama beliau sendiri tanpa menggunakan sayyidina?

Untuk kasus ini kita harus tahu diri, harus ngaca diri artinya tahu siapa diri kita dan tahu siapa nabi. Disini kita harus menggunakan akal pikiran logika kita, kita harus tahu adab dan sopan santun terhadap nabi.
....dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yunus :100)
Seseorang saja kalau dia keturunan ningrat, bangsawan atau masih ada keturunan darah biru terkadang orang itu mencantumkan gelar kebangsawanannya misalkan "raden", "roro", "tubagus" dll di depan namanya.

Kembali ke dalil, sekali lagi bahwa dalil AlQur'an adalah dalil tertinggi, jika ada hadist nabi yang bertentangan atau seolah-olah bertentangan dengan dalil Al-Qur'an maka kita harus tetap berpedoman pada dalil Al-Qur'an.
INGAT !!!
Penghormatan Bukan Berarti Penyembahan Atau Pengkultusan...

Biografi Abdurrahman Wahid ( GusDur )





LatarBelakangKeluarga
Abdurrahman "Addakhil", demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, "Addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru". Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.
Pengalaman Pendidikan

Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy'ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur'an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur'an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gus Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma'sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul 'The Story of Civilazation'. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin 'What is To Be Done' . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.
Perjalanan Karir


Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap 'menyimpang'-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-'aqdi yang diketuai K.H. As'ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum 'elit Islam' tersebut dengan organisasi sektarian.

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma'shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Penghargaan

  • Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990
  • Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991
  • Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991
  • Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994
  • Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998
  • Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
  • Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000
  • Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000
  • Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000
  • Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000
  • Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000
  • Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001
  • Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002
  • Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003.

Jumat, 01 Maret 2013

Penemu Lambang Garuda Pancasila

Belum Tahu Penemu Lambang Negara Indonesia??

Garuda merupakan lambang Negara Indonesia, hampir semua orang tahu itu. Namun hanya sebagian orang saja yang mengetahui siapa penemunya dan bagaimana kisah hingga menjadi lambang kebanggaan negara ini.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.Dia lah Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin.

Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.


(Sumber : http://www.facebook.com/pages/Dukung-NU-Mendirikan-TV-NU-Nusantara/120416661356120)

Hikmah Do'a

Manusia selalu mengharapkan semua keinginannya dapat terwujud. Keinginan itu pula yang menyebabkan manusia melakukan berbagai cara yang ditempuhnya untuk mewujudkan cita-cita, tidak jarang dari mereka menghalalkan yang haram.
Meminta hanya pada Allah seharusnya yang menjadi prioritas utama disamping ikhtiar. Mengapa manusia diharuskan untuk ikhtiar? Ikhtiar merupakan langkah usaha, sehingga kita merasakan jerih payah, merasakan keringat, yang kemudian ketika itu terpenuhi keinginan kita, kita tidak membesarkan kepala.

Namun, perlu kita ketahui bersama! bahwa Do'a yang kita panjatkan kepada Allah, tidak selamanya langsung terpenuhi. Adakalanya Allah langsung mengabulkan/memenuhi permintaan kita. ini yang selalu diharapkan oleh manusia. Ada kalanya juga Do'a yang kita minta kepada Allah digantikan dengan hal yang lain, yang bagi Allah itu lebih baik. Namun manusia lalai, bahwa itu pemberian dari Allah. Perlu kita ketahui bersama, Allah selalu memberikan jalan yang terbaik untuk hamba-Nya walau itu tidak sama dengan yang diminta oleh hamba-Nya.
Dan yang terakhir, do'a itu adakalanya disimpan sebagai tabungan untuk diakhirat nanti. Ini merupakan rahmat Allah yang luar biasa. Mengapa tidak, jikalau kita kurang dalam timbangan amalan, Allah memberikan tabungan berupa do'a yang belum terkabulkan di dunia.

Subhanallah, Maha Agung Allah dalam segala sifat-Nya.