Kamis, 21 Maret 2013

Serangan 1 MAret Yogyakarta


Serangan Umum 1 Maret 1949 ialah serangan yg dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yg direncanakan & dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada & cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dlm perundingan yg sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan maksud utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia [TNI] masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta. Kurang lebih satu bulan sesudah Agresi Militer Belanda II yg dilancarkan pada bulan Desember 1948, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yg dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.

Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos disepanjang jalan-jalan besar yg menghubungkan kota-kota yg telah diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil diseluruh daerah republik yg kini merupaken medan gerilya. Dalam keadaaan pasukan Belanda yg sudah terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan terhadap Belanda. Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung-yg sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial & ditugaskan untuk membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II & III-bertemu dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB & penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut & melancarkan propaganda yg menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tak ada lagi. Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yg harus diambil guna meng-counter propaganda Belanda.

Hutagalung yg membentuk jaringan di wilayah Divisi II & III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, & menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto & Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng. Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut merawat Panglima Besar Sudirman yg saat itu menderita penyakit paru-paru. Setelah turun gunung, pada bulan September & Oktober 1949, Hutagalung & keluarga tinggal di Paviliun rumah Panglima Besar Sudirman di [dahulu] Jl. Widoro No. 10, Yogyakarta.

Pemikiran yg dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlu meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat & Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan [Pemerintah Darurat Republik Indonesia -PDRI], ada organisasi TNI & ada tentaranya. Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan serangan spektakuler, yg tak bisa disembunyikan oleh Belanda, & harus diketahui oleh UNCI [United Nations Commission for Indonesia] & wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Untuk menyampaikan kepada UNCI & para wartawan asing bahwa Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam Tentara Nasional Indonesia, yg bisa berbahasa Inggris, Belanda atau Perancis. Panglima Besar Sudirman menyetujui gagasan tersebut & menginstruksikan Hutagalung agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II & III.

Letkol. dr. Hutagalung masih tinggal beberapa hari guna membantu merawat Panglima Besar Sudirman, sebelum kembali ke markasnya di Gunung Sumbing. Sesuai tugas yg diberikan oleh Panglima Besar Sudirman, dlm rapat Pimpinan Tertinggi Militer & Sipil di wilayah Gubernur Militer III, yg dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 1949 di markas yg terletak di lereng Gunung Sumbing. Selain Gubernur Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng, & Letkol Wiliater Hutagalung, juga hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol. Sarbini Martodiharjo, & pucuk pimpinan pemerintahan sipil, yaitu Gubernur Sipil, Mr. K. R. M. T. Wongsonegoro, Residen Banyumas R. Budiono, Residen Kedu Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking & Bupati Sangidi. Letkol Wiliater Hutagalung yg pada waktu itu juga sebagai penasihat Gubernur Militer III menyampaikan gagasan yg telah disetujui oleh Panglima Besar Sudirman, & kemudian dibahas bersama-sama yaitu:
• Serangan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III, yg melibatkan Wehrkreise I, II & III,
• Mengerahkan seluruh potensi militer & sipil di bawah Gubernur Militer III,
• Mengadakan serangan spektakuler terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III,
• Harus berkoordinasi dengan Divisi II agar memperoleh efek lebih besar,
• Serangan tersebut harus diketahui dunia internasional, untuk itu perlu mendapat dukungan dari: Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna koordinasi dengan pemancar radio yg dimiliki oleh AURI & Koordinator Pemerintah Pusat, Unit PEPOLIT [Pendidikan Politik Tentara] Kementerian Pertahanan.

Tujuan utama dari ini rencana ialah bagaimana menunjukkan eksistensi TNI & dengan demikian juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional. Untuk menunjukkan eksistensi TNI, maka anggota UNCI, wartawan-wartawan asing serta para pengamat militer harus melihat perwira-perwira yg berseragam TNI. Setelah dilakukan pembahasan yg mendalam, grand design yg diajukan oleh Hutagalung disetujui, & khusus mengenai “serangan spektakuler” terhadap satu kota besar, Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng bersikukuh, bahwa yg harus diserang secara spektakuler ialah Yogyakarta.

Tiga alasan penting yg dikemukakan Bambang Sugeng untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:
• Yogyakarta ialah Ibukota RI, sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam, akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.
• Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI [KTN] serta pengamat militer dari PBB.
• Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tak perlu persetujuan Panglima/GM lain & semua pasukan memahami & menguasai situasi/daerah operasi.

Selain itu sejak dikeluarkan Perintah Siasat tertanggal 1 Januari 1949 dari Panglima Divisi III/Gubernur Militer III, untuk selalu mengadakan serangan terhadap tentara Belanda, telah dilancarkan beberapa serangan umum di wilayah Divisi III/GM III. Seluruh Divisi III dapat dikatakan telah terlatih dlm menyerang pertahanan tentara Belanda. Selain itu, sejak dimulainya perang gerilya, pimpinan pemerintah sipil dari mulai Gubernur Wongsonegoro serta para Residen & Bupati, selalu diikutsertakan dlm rapat & pengambilan keputusan yg penting & kerjasama selama ini sangat baik. Oleh karena itu, dapat dipastikan dukungan terutama untuk logistik dari seluruh rakyat.

Selanjutnya dibahas, pihak-pihak mana serta siapa saja yg perlu dilibatkan. Untuk skenario seperti disebut di atas, akan dicari beberapa pemuda berbadan tinggi & tegap, yg lancar berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis & akan dilengkapi dengan seragam perwira TNI dari mulai sepatu sampai topi. Mereka sudah harus siap di dlm kota, & pada waktu penyerangan telah dimulai, mereka harus masuk ke Hotel Merdeka guna menunjukkan diri kepada anggota-anggota UNCI serta wartawan-wartawan asing yg berada di hotel tersebut. Kolonel Wiyono, Pejabat Kepala Bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan yg juga berada di Gunung Sumbing akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda yg sesuai dengan kriteria yg telah ditentukan, terutama yg fasih berbahasa Belanda & Inggris.

Hal penting yg kedua adalah, dunia internasional harus mengetahui adanya Serangan Tentara Nasional Indonesia terhadap tentara Belanda, terutama terhadap Yogyakarta, Ibukota Republik. Dalam menyebarluaskan berita ini ke dunia internasional maka dibantu oleh Kol. T. B. Simatupang yg bermarkas di Pedukuhan Banaran, desa Banjarsari, untuk menghubungi pemancar radio Angkatan Udara RI [AURI] di Playen, dekat Wonosari, agar sesudah serangan dilancarkan berita mengenai penyerangan besar-besaran oleh TNI atas Yogyakarta segera disiarkan.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang lebih kompeten menyampaikan hal ini kepada pihak AURI daripada perwira Angkatan Darat. Diperkirakan apabila Belanda melihat bahwa Yogyakarta diserang secara besar-besaran, dipastikan mereka akan mendatangkan bantuan dari kota-kota lain di Jawa Tengah, dimana terdapat pasukan Belanda yg kuat seperti Magelang, Semarang & Solo. Jarak tempuh [waktu itu] Magelang-Yogya hanya sekitar 3-4 jam saja; Solo-Yogya, sekitar 4-5 jam, & Semarang-Yogya, sekitar 6-7 jam. Magelang & Semarang [bagian Barat] berada di wilayah kewenangan Divisi III GM III, namun Solo, di bawah wewenang Panglima Divisi II/GM II Kolonel Gatot Subroto. Oleh karena itu, serangan di wilayah Divisi II & III harus dikoordinasikan dengan baik sehingga dapat dilakukan operasi militer bersama dlm kurun waktu yg ditentukan, sehingga bantuan Belanda dari Solo dapat dihambat, atau paling tak dapat diperlambat.

Pimpinan pemerintahan sipil, Gubernur Wongsonegoro, Residen Budiono, Residen Salamun, Bupati Sangidi & Bupati Sumitro Kolopaking ditugaskan untuk mengkoordinasi persiapan & pasokan perbekalan di wilayah masing-masing. Pada waktu bergerilya, para pejuang sering harus selalu pindah tempat, sehingga sangat tergantung dari bantuan rakyat dlm penyediaan perbekalan. Selama perang gerilya, bahkan Camat, Lurah serta Kepala Desa sangat berperan dlm menyiapkan & memasok perbekalan [makanan & minuman] bagi para gerilyawan. Ini semua telah diatur & ditetapkan oleh pemerintah militer setempat. Untuk pertolongan & perawatan medis, diserahkan kepada PMI. Peran PMI sendiri juga telah dipersiapkan sejak menyusun konsep Perintah Siasat Panglima Besar. Dalam konsep Pertahanan Rakyat Total-sebagai pelengkap Perintah Siasat No. 1-yg dikeluarkan oleh Staf Operatif [Stop] tanggal 3 Juni 1948, butir 8 menyebutkan: Kesehatan terutama tergantung kepada Kesehatan Rakyat & P. M. I. karena itu evakuasi para dokter & rumah obat mesti menjadi perhatian.

Sutarjo Kartohadikusumo, Ketua DPA yg juga ialah Ketua PMI [Palang Merah Indonesia], mengatur pengiriman obat-obatan bagi gerilyawan di front. Beberapa dokter & staf PMI kemudian banyak yg ditangkap oleh Belanda & ada juga yg mati tertembak sewaktu bertugas. Setelah rapat selesai, Komandan Wehrkreise II & para pejabat sipil pulang ke tempat masing-masing guna mempersiapkan segala sesuatu, sesuai dengan tugas masing-masing. Kurir segera dikirim untuk menyampaikan keputusan rapat di Gunung Sumbing pada 18 Februari 1949 kepada Panglima Besar Sudirman & Komandan Divisi II/Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto.

Sebagaimana telah digariskan dlm pedoman pengiriman berita & pemberian perintah, perintah yg sangat penting & rahasia, harus disampaikan langsung oleh atasan kepada komandan pasukan yg bersangkutan. Maka rencana penyerangan atas Yogyakarta yg ada di wilayah Wehrkreise I di bawah pimpinan Letkol. Suharto, akan disampaikan langsung oleh Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng. Kurir segera dikirim kepada Komandan Wehrkreise III/Brigade 10, Letkol. Suharto, untuk memberitahu kedatangan Panglima Divisi III serta mempersiapkan pertemuan. Diputuskan untuk segera berangkat sore itu juga guna menyampaikan grand design kepada pihak-pihak yg terkait. Ikut dlm rombongan Panglima Divisi selain Letkol. dr. Hutagalung, antara lain juga dr. Kusen [dokter pribadi Bambang Sugeng], Bambang Surono [adik Bambang Sugeng], seorang mantri kesehatan, seorang sopir dari dr. Kusen, Letnan Amron Tanjung [ajudan Letkol Hutagalung] & beberapa anggota staf Gubernur Militer [GM] serta pengawal.

Pertama-tama rombongan singgah di tempat Kol. Wiyono dari PEPOLIT, yg bermarkas tak jauh dari markas Panglima Divisi, & memberikan tugas untuk mencari pemuda berbadan tinggi & tegap serta fasih berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis yg akan diberi pakaian perwira TNI. Menjelang sore hari, Panglima Divisi beserta rombongan tiba di Pedukuhan Banaran mengunjungi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kol. Simatupang. Selain anggota rombongan Bambang Sugeng, dlm pertemuan tersebut hadir juga Mr. M. Ali Budiarjo, yg kemudian menjadi ipar Simatupang.

Simatupang pada saat itu dimohonkan untuk mengkoordinasi pemberitaan ke luar negeri melaui pemancar radio AURI di Playen & di Wiladek, yg ditangani oleh Koordinator Pemerintah Pusat. Setelah Simatupang menyetujui rencana grand design tersebut, Panglima Divisi segera mengeluarkan instruksi rahasia yg ditujukan kepada Komandan Wehrkreise I Kolonel Bachrun, yg akan disampaikan sendiri oleh Kol. Sarbini.

Brigade IX di bawah komando Letkol Achmad Yani, diperintahkan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tanggal 19 Februari 1949. Panglima Divisi & rombongan meneruskan perjalanan, yg selalu dilakukan pada malam hari & beristirahat pada siang hari, untuk menghindari patroli Belanda. Penunjuk jalan juga selalu berganti di setiap desa. Dari Banaran rombongan menuju wilayah Wehrkreise III melalui pegunungan Menoreh untuk menyampaikan perintah kepada Komandan Wehrkreis III Letkol. Suharto. Bambang Sugeng beserta rombongan mampir di Pengasih, tempat kediaman mertua Bambang Sugeng & masih sempat berenang di telaga yg ada di dekat Pengasih [Keterangan dari Bambang Purnomo, adik kandung alm. Bambang Sugeng, yg kini tinggal di Temanggung]. Pertemuan dengan Letkol. Suharto berlangsung di Brosot, dekat Wates. Semula pertemuan akan dilakukan di dlm satu gedung sekolah, namun karena kuatir telah dibocorkan, maka pertemuan dilakukan di dlm sebuah gubug di tengah sawah. Hadir dlm pertemuan tersebut lima orang, yaitu Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kol. Bambang Sugeng, Perwira Teritorial Letkol. dr. Wiliater Hutagalung beserta ajudan Letnan Amron Tanjung, Komandan Wehrkreise III/Brigade X Letkol. Suharto beserta ajudan. Kepada Suharto diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara tanggal 25 Februari & 1 Maret 1949. Kepastian tanggal baru dapat ditentukan kemudian, sesudah koordinasi serta kesiapan semua pihak terkait, antara lain dengan Kol. Wiyono dari Pepolit Kementerian Pertahanan.
Setelah semua persiapan matang, baru kemudian diputuskan [keputusan diambil tanggal 24 atau 25 Februari], bahwa serangan tersebut akan dilancarkan tanggal 1 Maret 1949, pukul 06. 00 pagi. Instruksi segera diteruskan ke semua pihak yg terkait.

Puncak serangan dilakukan dengan serangan umum terhadap kota Yogyakarta [ibu kota negara] pada tanggal 1 Maret 1949, dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, sesudah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jalannya serangan Umum
Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yg serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan ialah Ibukota Republik, Yogyakarta, serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yg diperkuat dengan satu Batalyon dari Brigade IX, sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang & penghadangan di jalur [[Magelta-kota di sekitar Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yg dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I, Letkol Bahrun & Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. Pada saat yg bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan ialah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dlm pertempuran agar tak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta.

Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota & dlm jumlah kecil mulai disusupkan ke dlm kota. Pagi hari sekitar pukul 06. 00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan & timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono & Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12. 00 siang, sebagaimana yg telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur

Serangan terhadap kota Solo yg juga dilakukan secara besar-besaran, dapat menahan Belanda di Solo sehingga tak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta, yg sedang diserang secara besar-besaran -Yogyakarta yg dilakukan oleh Brigade IX, hanya dapat memperlambat gerak pasukan bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tentara Belanda dari Magelang dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik, & sampai di Yogyakarta sekitar pukul 11. 00.

Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yg serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan ialah Ibukota Republik, Yogyakarta, serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yg diperkuat dengan satu Batalyon dari Brigade IX, sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang & penghadangan di jalur [[Magelta-kota di sekitar Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yg dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I, Letkol Bahrun & Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. Pada saat yg bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan ialah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dlm pertempuran agar tak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta. Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota & dlm jumlah kecil mulai disusupkan ke dlm kota. Pagi hari sekitar pukul 06. 00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro.

Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan & timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono & Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12. 00 siang, sebagaimana yg telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur

Serangan terhadap kota Solo yg juga dilakukan secara besar-besaran, dapat menahan Belanda di Solo sehingga tak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta, yg sedang diserang secara besar-besaran -Yogyakarta yg dilakukan oleh Brigade IX, hanya dapat memperlambat gerak pasukan bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tentara Belanda dari Magelang dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik, & sampai di Yogyakarta sekitar pukul 11. 00.

Serangan Besar-Besaran Tentara Nasional Republik Indonesia Terhadap Belanda
Mr. Alexander Andries Maramis, yg berkedudukan di New Delhi menggambarkan betapa gembiranya mereka mendengar siaran radio yg ditangkap dari Burma, mengenai serangan besar-besaran Tentara Nasional Republik Indonesia terhadap Belanda. Berita tersebut menjadi Headlines di berbagai media cetak yg terbit di India.

Hal ini diungkapkan oleh Mr. Maramis kepada dr. W. Hutagalung, ketika bertemu di tahun 50-an di Pulo Mas, Jakarta. Serangan Umum 1 Maret mampu menguatkan posisi tawar dari Republik Indonesia, mempermalukan Belanda yg telah mengklaim bahwa RI sudah lemah. Tak lama sesudah Serangan Umum 1 Maret terjadi Serangan Umum Surakarta yg menjadi salah satu keberhasilan pejuang RI yg paling gemilang karena membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ke tengah kota Solo yg dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat-artileri, pasukan infantri & komando yg tangguh. Serangan umum Solo inilah yg menyegel nasib Hindia Belanda untuk selamanya.

300 Prajurit Tewas Dan 53 Anggota Polisi Tewas
Dari pihak Belanda, tercatat 6 orang tewas, & diantaranya ialah 3 orang anggota polisi; selain itu 14 orang mendapat luka-luka. Segera sesudah pasukan Belanda melumpuhkan serangan terebut, keadaan di dlm kota menjadi tenteram kembali. Kesibukan lalu-lintas & pasar kembali seperti biasa, malam harinya & hari-hari berikutnya keadaan tetap tenteram. Pada hari Selasa siang pukul 12. 00 Jenderal Meier [Komandan teritorial merangkap komandan pasukan di Jawa Tengah], Dr. Angent [Teritoriaal Bestuurs-Adviseur], Kolonel van Langen [komandan pasukan di Yogya] & Residen Stock [Bestuurs-Adviseur untuk Yogya] telah mengunjungi kraton guna membicarakan keadaan dengan Sri Sultan.
Dalam serangan terhadap Yogya, pihak Indonesia mencatat korban sebagai berikut: 300 prajurit tewas, 53 anggota polisi tewas, rakyat yg tewas tak dapat dihitung dengan pasti. Menurut majalah Belanda De Wappen Broeder terbitan Maret 1949, korban di pihak Belanda selama bulan Maret 1949 tercatat 200 orang tewas & luka-luka.

Foto: Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949

Sumber: sejarahnusantara.com

Rabu, 20 Maret 2013

Makalah I'jazul Qur'an

   
  1. I’jazul Qur’an
    MAKALAH
    Disusun Guna Memenuhi Tugas
    Mata Kuliah : Ulumul Qur’an
    Dosen Pengampu : Nadhifah, S.Th.I, M.S.I





    Disusun Oleh : 
    Mufidin 123211053
    Muhammad Aniq  12321105         
    Muhammad Daris Fithon 123211055




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
  1.  PENDAHULUAN
Tiada satu bacaan pun seperti Al- Qur’an yang dpelajari, dibaca, dan dipelihara aneka macam riwayat cara membacanya. Dan Tiada sedikit pun selain Al- Qur’an yang diatur tata cara membacanya, mana yang harus dipanjangkan, dipendekkan, dipertebal, atau diperhalus ucapannya. Dimana tempat boleh atau harus bermula dan berhenti, bahkan diatur lagu dan irama yang diperkanankan atau tidak, sampai pada etika membacanya.
Keistimewaan Al- Qur’an inilah yang menjadi daya tarik sendiri, sirr min Asroril Quran sangat banyak sekali. Dari juz, surat, ayat, kalimah bahkan apa yang ada dalam huruf per huruf di Al- Qur’an itu merupakan anugerah dari Allah Swt.
Kemukjizatan Al- Qur’an adalah suatu yang diberikan Allah untuk sang Kekasih-Nya , beliau Nabi Muhammad Saw. Kemukjizatan yang tidak diberikan Allah kepada siapapun baik sebelum maupun sesudah Nabi Muhammad Saw. Inilah yang merupakan keistimewaan tersendiri dari Al- Qur’an sekaligus sebagai Mukjizat Rahmatan lil ‘alamien.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian dan Tujuan I’jazul Qur-an
    2. Macam-macam mukjizat Al- Qur’an
    3. Segi-segi kemukjizatan Al- Qur’an

  1. PEMBAHASAN
    1. Pengertian dan Tujuan I’jazul Qur-an
I’jaz menurut bahasa membuktikan kelemahan. Sedangkan menurut istilah i’jaz ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila i’jaz sudah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz. Dikehendaki dengan i’jaz dalam pembahasan ini, ialah ;
اظهارصدق النبي ص م في دعوة الرسالة باظهارعجز العرب عن معارضته في معجزته الخالدة وهي القران وعجزالجبال بعدهم
“Memperlihatkan kebeneran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang Rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang arab dalam menantangnya terhadap mukjizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang datang sesudah mereka”
Dan mukjizat ialah :
امرخارق للعادة مقرون بالتحدي سالم عن المعارضات
”Suatu urusan menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddah dan terlepas dari tantangan”1
Kata mukjizat sendiri terambil dari kata bahasa Arab, اعجز yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu” . Pelakunya yang melemahkan dinamai Mu’jiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, maka dinamai معجزة (mukjizat). Tambahan (ة) ta’ marbuthoh pada akhir kata itu, yang mengandung makna mubalaghah(superlatif). Mukjizat di definisikan oleh pakar agama islam, antara lain, sebagai “ suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang di utus Allah, sebagai bukti ke-Nabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu” 2
Mukjizat sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu di ibaratkan sebagai ucapan Tuhan : “Apa yang dinyatakan sang Nabi adalah benar. Dia adalah utusan-KU, dan buktinya Aku melakukan mukjizat itu”.
Sebenarnya mukjizat walaupun dari segi bahasa diartikan melemahkan atau membuktikan kelemahan yang ditantang sebagaimana dikemukakan diatas, namun dalam segi agama, untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing Nabi. Jikalau demikian, maka ini paling tidak mengandung dua konsekuensi :
Pertama, bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka ia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Mukjizat hanya berfungsi memperkuat keimanan, serta menambah keyakinannya kepada Allah SWT.
Kedua, para Nabi dari sejak Nabi Adam a.s hingga Nabi Isa a.s diutus untuk suatu kurun tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Namun apakah ini berarti peristiwa luar biasa yang terjadi melalui mereka itu tidak dapat dilakukan oleh selain umat mereka pada generasi sesudah generasi mereka? Jika tujuan mukjizat hanya untuk menyakinkan umat setiap Nabi, maka boleh jadi umat yang lain dapat malakukannya. 3
I’jazul Qur-an mempunyai tujuan yaitu :
  • Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad Saw
  • Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al Qur-an benar-benar merupakan wahyu Allah
  • Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia
  • Untuk menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia. 4

  1. Macam – macam mukjizat Al- Qur’an
Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu pertama mukjizat yang bersifat material indrawi lagi tidak kekal, dan kedua mukjizat imaterial, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu kesemuanya merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat Nabi tersebut menyampaikan risalahnya.5
Perahu Nabi Nuh a.s yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang dahsyat; tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s dalam kobaran api yang sangat besar; tongkat Nabi Musa a.s yang beralih wujud menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s atas izin Allah; dan lain-lain. Kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada. Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad Saw, yang sifatnya bukan indrawi atau material, namun dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat Al- Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.6
Al- Qur’an mengemukakan, alasan mengapa bukti mukjizat Nabi Muhammad Saw adalah Al- Qur’an? Karna sesungguhnya umat terdahulu jikalau di tunjukkan mukjizat para Nabi Allah SWT, mereka berdusta. Sebagaimana firman Allah :

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi kami untuk mengirimkan tanda-tanda (mukjizat) yang bersifat indrawi (melalui Engkau Nabi Muhammad) melainkan karena tanda-tanda (semacam )itu telah (kami kirimkan sebelum ini, namun) didustakan oleh umat terdahulu” (QS Al-Isra : 59)

Penolakan terhadap Al- Qur’an sebagai wahyu Allah, sudah terjadi pada waktu turunnya. Mereka menganggap bahwa Al- Qur’an merupakan buah karya Nabi Muhammad Saw, padahal beliau sendiri seorang yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap Al- Qur’an sebagai wahyu Allah, Al- Qur’an menantang dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
  1. Mendatangkan semisal Al- Qur’an
Disini Allah memerintahkan Manusia dan Jin berkumpul untuk membuat semacam Al- Qur’an. Sebagaimana Firman Allah :

“katakanlah : sesungguhnya jika berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang seperti Al- Qur’an ini, pastilah mereka tidak dapat mendatangkan yang sepertinya, walaupun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain” (QS. Al- Isra’ : 88)
  1. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al- Qur’an.
“Bahkan mereka mengatakan : Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu. Katakanlah, (kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat untuk menyamainya, dan panggilah orang-orang yang kamu anggap sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Hud : 13)
Meskipun lebih ringan dibanding tantangan yang pertama, namun tak seorang pun yang berhasil menjawab tantangan tersebut
  1. Mendatangkan satu surat

“Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah, “(kalau benar yang kamu lakukan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuat-membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar ”. (QS. Yunus : 38)


Dan Allah mengulangi firman-Nya kembali pada surat Al-baqarah.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS. Al-Baqarah : 23)7

  1. Segi – segi kemukjizatan Al- Qur’an
  1. Gaya Bahasa
Yaitu adanya susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan yang diketahuinya dalam bahasa Arab. Al- Qur’anul Karim tidak bisa disamakan oleh apapun dalam susunannya. Hal itu telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan gembong-gembong ahli pidato yang fasih dan gamblang seperti Walid bin Mughiroh, Utbah bin Rabi’ah dan sastrawan lainnya.8
Al- Qur’an telah melemahkan orang Arab, sehingga tidak bisa mengeluarkan kalam seperti Al- Qur’an. Dalam segi susunan kalimah, huruf, lafadh, bahasa.9
  1. Susunan kalimat / Uslub
Al- Qur’an muncul dengan uslub yang baik dan indah, bisa mengagumkan orang-orang Arab karena keindahannya, keasikan dan kemanisan susunannya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia yang akan menyamai isi kandungan Al- Qur’an. Uslub Al- Qur’an yang menakjubkan itu, mempunyai beberapa keistimewaan :
  1. Kelembutan Al- Qur’an secara lafdziah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.
  2. Keserasian Al- Qur’an baik untuk awam maupun kaum cendikiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan Al- Qur’an
  3. Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana Al- Qur’an memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
  4. Keindahan sajian Al- Qur’an serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.
  5. Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafadh dan susunannya yang bermacam-macam, yang semuanya indah dan halus.
  6. Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang dikemukakan).
  1. Iijaz
Segi kemukjizatan Al- Qur’an yang ketiga adalah adanya sifat Iijaz(simple) yang indah, dan kemegahan ucapan yang luar biasa diluar kemampuan manusia untuk menguasai atau mendatangkan persamaannya, karena hal itu berada diatas kemampuan manusia.
  1. Undang-undang Ilahi yang Sempurna
Al- Qur’an menjelaskan pokok-pokok aqidah, hukum-kukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, politik, sosial, dan kemasyarakatan, dan Al- Qur’an-lah yang meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang mulia lagi adil yang didengungkan oleh para tokoh reformer.
  1. Berita-berita tentang hal yang ghaib
Jikalau Al- Qur’an itu buah karya Nabi Muhammad, pasti akan jelas tanda-tanda bikinan beliau dalam berita-berita ghaib itu, sebab buktinya berbeda dengan yang ia beritakan, dan nampak jelas pula kedustaannya, padahal Nabi Saw jauh dari sifat dusta.
Contoh surat Ar-Rum, yang menceritakan perang yang akan terjadi antara Roma dan Parsi, serta kemenangan pada peperangan tersebut ada dipihak Roma setelah mereka kucar-kacir dalam peperangan terdahulu. Firman Allah Swt :

“2 Telah dikalahkan bangsa Rumawi, 3. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, 4. Dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,5. Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Q.S Ar-Ruum : 2-5)
  1. Sejalan dengan ilmu pengetahuan modern
Adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu oleh Al- Qur’an sebelum ditemukan oleh para ilmuwan. Teori Al- Qur’an itu sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Sebagai contoh penyidikan dengan sidik jari. Pada abad yang lampau tahun 1884M di Inggris, secara resmi telah dipergunakan metode untuk mengenali seseorang dengan perantaraan sidik jari. Hal itu terbukti karna kulit jari-jari manusia berlapis dengan garis-garis halus yang beraneka macam yaitu berbentuk busur, tali, dan panggalan. Kadang-kadang semua anggota tubuh manusia memilki kesamaan, namun jari-jari memilki keistimewaan sendiri. Sebagaimana firman Allah Swt :

“3.Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?4.Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.(QS. Al-Qiyamah : 3-4)
  1. Memenuhi kebutuhan manusia
Al- Qur’an menyampaikan petunjuk dan bimbingan seperti :
  1. Perbaikan individu
  2. Perbaikan masyarakat
  3. Perbaikan aqidah
  4. Perbaikan ibadah
  5. Perbaikan akhlak
  6. Perbaikan hukum dan politik
  7. Perbaikan urusan keuangan
  8. Perbaikan urusan perang
  9. Perbaikan kebudayaan ilmiah10

  1. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa Al- Qur’an merupakan anugerah yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Mukjizat itu tidak berupa indrawi yang sementara, melainkan bentuk kalam Allah SWT.
I’jazul Quran ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila i’jaz sudah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz (pelaku).
Keistimewaan Al- Qur’an berlaku untuk kapanpun, baik segi kandungan ayat, khasiat surat maupun ayat, semua ada dalam kalam Ilahi tersebut. Inilah kemukjizatan dan keistimewaan Al- Qur’an. Al- Qur’an jauh-jauh hari telah membicarakan ilmu pengetahuan modern, cerita-cerita para Nabi terdahulu, hukum-hukum(baik alam, pidana), politik, sosial, ekonomi, peradaban, dan lain-lain.
  1. PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat kita ketahui bersama, bahwa mukjizat mempunyai peran untuk melemahkan umat manusia yang menentang.
Demikianlah pembahasan makalah sekelumit tentang I’jazul Quran, kami sebagai pemakalah, menyadari bahwa makalah yang kami sampaikan sangat jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanya milik Allah, dan kesalahan milik kami. Maka dari itu, perkenankanlah kami, meminta kritik dan saran dari pembaca guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah sendiri dan pada umumnya untuk pembaca. Amien
Dan akhir kata, pemakalah mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata, baik berupa sistematika penyusunan, maupun isi serta penyampaian makalah ini.












DAFTAR PUSTAKA

Hasbi Ash Shieddqy, Prof. DR. Teungku Muhammad. Ilmu-ilmu Al-Qur-an. 2002. Semarang : Pustaka Rizki Putra.
Shihab, M. Quraish. Mukjizat Al- Qur’an. 1997. Bandung : Mizan.
Syadali Drs. H. Ahmad, Drs. H. Ahmad Rofi’i. Ulumul Quran II. 1997. Bandung : Pustaka Setia.
Al-Qutthon Minaul Kholil. Mabahits fi ulumil Quran.
Umar Drs. H. Moh. Chudlori, Drs. Moh. Matsna H.s.Pengantar Studi Al-Qur’an. 1987. Bandung : Al-M’arif.

1 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shieddqy, Ilmu-ilmu Al-Qur-an, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2002), h : 317
2 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung :Mizan,1997), h :
3 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :33
4 Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i, Ulumul Quran II, (Bandung : Pustaka Setia,1997), h :11
5 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :35
6 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al- Qur’an, (Bandung : Mizan,1997), h :36
7 Minaul Kholil Al-Qutthon, Mabahits fi ulumil Quran, h : 259
8 Moh. Chudlori Umar, Moh. Matsna H.s, Pengantar Studi Al-Qur’an (Bandung : Al-M’arif,1987), h : 119
9 Minaul Kholil Al-Qutthon, Mabahits fi ulumil Quran, h : 266
10 Moh. Chudlori Umar, Moh. Matsna H.s, Pengantar Studi Al-Qur’an (Bandung : Al-M’arif,1987), h : 119-182